Sabtu, 31 Juli 2010

The Burning Season

Pada puncak pembakaran, Amazon tertutup atap seluas India

70 persen tumbuhan yang bias untuk mengobati kanker ditemukan di hutan hujan

Efek rumah kaca bisa menyebabkan mencairnya es di kutub dan penyebab banjir di kotakota pesisir besar diseluruh dunia.

CHICO MANDES... CHICO MANDES... CHICO MANDES...

( diambil dari kutipan dalam adegan filmThe Burning Season )


The Burning Season atau yang secara kasar saya artikan sebagai musim membakar atau musim kebakaran ini membuat saya merasa malu akan kenikmatan yang selama ini saya rasakan, karena ternyata dibalik kemegahan lingkungan sekitar kita terdapat kehidupan yang mungkin berbeda dengan kita. Film yang memiliki setting tempat tahun 1951 di Cachoeira, Brazil ini setidaknya menjadi tamparan bagi kehidupan kita. Mungkin ini hanya sebuah film biasa yang mengangkat kisah kaum tertentu, namun banyak sekali pelajaran yang dipetik dari film ini.


Berawal dari kisah Chico Mandes kecil yang mulai belajar mengenai kehidupan dilingkungannya sebagai penyadap karet. Chico memang seorang anak yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan ia pun pandai. Mitos yang melegenda dalam kehidupan masyarakat penyadap karet juga dipegang teguh oleh Chico. Mitos mengenai Curupira, yaitu digambarkan sebagai manusia cebol hutan yang kakinya terbalik sehingga tidak bias dilacak. Digambarkan dalam film ini bahwa curupira akan menemui seseorang apabila orang tersebut mengambil hasil dari hutan tertalu dalam atau banyaka (dalam hal ini yaitu getah karet). Hutan akan menelan orang tersebut, apabila orang tersebut serakah.


Film ini menceritakan perjuangan masyarakat penyadap getah karet yang berusaha mempertahankan tanah dan hutan mereka dengan membentuk perserikatan kelompok mereka. Namun perjuangan memang tidak mudah, selalu terdapat terjal dan liku untuk menemukan kebahagiaan akan tercapainya tujuan. Seperti itulah perjuangan kaum penyadap karet di Cachoeira yang mempertahankan tanah hutan mereka untuk tidak dijadikan lahan peternakan.

Perjuangan mereka diawali dengan tindakan para pengusaha ternak Bordon yang menebang pohon untuk membuka jalan atau membuka lahan hutan agar dapat dijadikan sebagai lahan peternakan yang bermanfaat bagi kepentingan mereka. Namun di sisi lain tindakan pengusaha ternaka telah menyengsarakan kaum penyadap getah karet, selain itu mereka juga merusak alam dan lingkungan sekitar mereka karena akibat dari tindakan mereka adlah yang kita hadapi saat ini yaitu global warnming .


Film ini menggambarkan bagaimana kapitalisme itu mendarah daging dan mengalir dalam kehidupan kita. Pembagian kelas seperti yang dikatakan oleh Karl Marx memang berlangsung dalam kehidupan kita. Dalam karyanya The Communist Manifesto, Marx mengatakan bahwa ”Masyarakat sebagai satu keseluruhan menjadi semakin terbagi dalam dua kelompok besra yang saling bermusuhan, kedalam dua kelas yang saling berhadapan secara langsung : borjuis dan proletariat” [1]. Dalam film ini memang diceritakan bagaimana sulitnya kaum kecil memperjuangkan hak-haknya. Diperlukan sebuah perjuangan dan pengorbanan harta, benda bahkan nyawa. Hanya sebuah gerakan reformasi yang dapat mengalahkan kaum kapitalis ini, karena mereka cenderung memiliki berbagai fasilitas yang tidak dimiliki oleh kaum proletar.


Seperti yang dikatakan oleh Wilson Pinhiero salah satu pejuang perserikatan sekaligus teman Chico bahwa pergerakan dan perserikatan akan membawa mereka kepada kemenangan. Namun kata – kata yang sangat penting adalah kata – kata yang diucapkan oleh Chiko yaitu, “100 orang tanpa pendidikan itu pemberontakan. Satu orang berpendidikan adalah awal dari pergerakan!”. Kata – kata yang sederhana namum memiliki sejuta kekuatan. Memang benar apa yang ia katakan, bahwa yang akan membawa kepada kemenangan adalah mereka yang memiliki pendidikan. Namun persoalan utama adalah akses pendidikan memang sulit bagi kaum proletar atau kaum buruh.

Perjuangan mereka memang perlu mengorbankan banyak hal, termasuk nyawa mereka. Wilson Pinhiero menjadi korban pembunuhan karena ia seorang ketua dari perserikatan yang memperjuangkan hak – hak kaum penyadap getah karet. Mereka memperjuangkan kehidupan mereka dan melindungi tanah hutan mereka. Tindakan para penguasa dan peternak yang serakah dan hanya ingin mendapatkan keuntungan tanpa memikirkan dampak negatif dari apa yang mereka lakukan sekarang adalah salah satu cirri kaum kapitalisme. Mereka hanya mengejar keuntungan sebanyak-banyaknya tanpa mempedulikan keerugian bagi orang lain bahkan bagi lingkungan sekalipun. Pemaksaan yang dilakukan kaum penguasa peternakan sangat beragam, mulai dari mengancam, memaksa dengan membakar hutan, membunuh, sampai menjadikan kekuasaan, militer, hukum dan kedudukan mereka sebagai alat untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan yaitu lahan peternakan.


Kematian Wilson Pinhiero sebagai ketua perserikatan menjadikan Chico sebagai penggantinya, karena tanpa adanya peimimpin maka pergerakan sulit dilakukan. Perjuangan yang dilakukan oleh kepemimpinan Chico memang berbeda, seperti yang disebutka diawal bahwa orang yang berpendidikan akan lebih mudah untuk menang. Mungkin Chico bukan kategori orang berpendidikan secara formal, namun ia di didik sejak kecil untuk menjadi seorang anak yang cerdas yang mampu merubah kehidupan menjadi lebih baik.

.

Dalam materi kuliah Globalisasi dan Kapitalisme dijelaskan mengenai Environmentalisme dan Ekologi. Environmentalisme adalah semua bentuk tindakan kolektif yang, baik secara wacana maupun praktik, bertujuan memperbaiki bentuk-bentuk hubungan yang destruktif antara manusia dengan alam sekitarnya. Sementara itu ekologi adalah serangkaian kepercayaan, teori dan kegiatan yang memandang dan memperlakukan manusia sebagai salah satu unsur dalam ekosistem yang luas serta berkeinginan mempertahankan sistem itu dalam perspektif yang dinamis. Konsep yang berlawanan. Sama halnya seperti yang diceritakan dalam film ini. Kaum peternak dan pengusaha menganggap pembuataan lahan dan jalan adalah salah satu uapaya pembangunan yang dapat memperbaiki kehidupan mereka, karena selama ini mereka tidak dapat memenuhi kebutuhan mereka hanya dengan menyadap getah dari pohon karet.

Berawal dari kehadiran seorang pembuat film documenter yaitu Steven Kaye yang ingin membuat film yang menceritakan tentang kisah kehidupan masyarakat di desa Cachoeira. Chico melakukan perjuangan tanpa kekerasan, tanpa melawan kekejaman namun dengan cara yang lebih damai. Chico memang selalu mengutamakan negosiasi terlebih dahulu daripada melawan dengan kekerasan. Karena belajar dari pengalaman, apabila mereka melawan dengan kekerasan maka mereka akan mendapat perlawana yang lebih kejam dengan menjadikan alasan politik bahwa mereka adalah kaum pemberontak. Sehingga diperlukan cara yang halus untuk memberontak kaum peternak tersebut

Dengan membuat film dokumenter Chico dan temanya berusaha melakukan perjuangan dengan meminta simpati dan dukungan dari banyak negara di dunia. Chico menjadikan media yang terkini sebagai media perjuangannya secara damai. Dalam film ini pun dijelaskan bagaimana tahapan gglobalisasi sudah berkembang sejak dulu. Keberadaan film di desa terpencil menjadi hal yang mendunia yang dapat memberikan banyak informasi. Dalam sebuah adegan pun digambarkan bagaimana produksi negara maju seperti sabun, sampho dan scotch. Audiens memang tertawa ketika adegan ini muncul, mungkin karena barang – barang tersebut merupakan barang yang sepele dan biasa dikenla, tapi tidak dengan orang – orang yang hidup dengan kemudahan seperti kita. Inilah globalisasi yang dalam Kamus Ilmiah Populer memiliki arti sebagai proses pengglobalan seluruh aspek kehidupan atau perubahan yang menyeluruh di segala kehidupan[2]. Seperti apa yang kita kenal dengan shampo, sabun dan minuman keras tadi adalah hasil atau contoh dari globalisasi, semua orang mengetahuinya dan menggunakannya di seluruh dunia.

Perjuangan Chico dengan cara damai memang mendekati kemenangan namun dengan waktu yang cukup lama dan melelahkan. Korban pun semakin berjatuhan, penindasan yang dilakukan oleh penguasa memang mudah mereka lakukan semudah membalikkan telapak tangan. Berbagai tindakan tetap Chico lakukan untuk memperjuangkan kemenangan kaumnya. Hingga pada saat titik kemenangan dilakukanlah diskusi atau negosiasi yang dengan bantuan dan dukungan beberapa negara perjuangan Chico dimenangkan. Pemerintah menarik pasukan dan menjadikan daerah Cachoeira dan sekitar sungai Amazon sebagi hutan lindung. Karena selama ini terjadi kebakaran yang dilakukan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab dan tindkan pembakaran tersebut merusak lingkungan alam dan lapisan ozon di dunia sehingga akan mengakibatkan bencana dan kerugian bagi anak cucu kita keesokan hari. Oleh karena itu penebangan dan pembakaran hutan tidak lagi diijinkan oleh pemerintah. Namun perjuangan tidak berhenti sampai disitu. Chico memang harus merelakan nyawanya untuk menyempurnakan kemenangan kaumnya menjadi daerah yang dilindungi dan aman tanpa gangguan dan pengrusakan manapun. Chico meniggal dengan cara yang sama yaitu dibunuh. Namun keadilan akhirnya dapat ditegakkan. Saksi pembunuhan yang selama ini terjadi memberikan saksi mengenai siapa pelakunya. Namun pelaku tersebut menjadi buron, akan tetapi perjuangan Chico tidaklah sia – sia, kematiannya mengundang peerhatian dari berbagai Negara sehingga pemerintah Brazil melindungi daerah mereka sebagai hutan hujan tropis yang dilindungi oleh pemerintah unuk selamanya.

Pada tanggal 12 Maret 1990 akhirnya pemerintah Brazil menyatakan 2,5 juta are wilayah sekitar Cachoeira akan dilindungi selamanya oleh hukum dari penebangan, pembukaan dan pembakaran. Dan tempat itupun diberi nama “Suaka Alam Chico Mendes” . Tetapi memang benar, bahwa perjuangan ini belum berakhir. Kita masih harus berjuang melindungi kelestarian alam kita, karena alam akan memberikan dampak dari apa yang kita lakukan selama ini.

Berikut ini beberapa catatan penting mengenai kondisi alam di Bumi saat ini :

· Hampir separuh hutan hujan tropis dunia telah hancur

· Setiap 10 menit kita kehilangan hutan seluas Central Park

· Setiap hari kita kehilangan hutan seluas New Orleans

· Tiap tahun seluas Inggris, Skotlandia dan Wales hancur

· Pada puncak pembakaran, Amazon tertutup atap seluas India

· 70 persen tumbuhan yang bias untuk mengobati kanker ditemukan di hutan hujan

· Munculnya AIDS dan virus mematikan lainnya tampaknya adalah dampak alami dari rusaknya biosphere tropis.

· Tiap hari, hampir 50 spesies hancur oleh penggundulan hutan

· Pembakaran hutan di Brazil diduga akan menaikkan suhu global antara 3 sampai 8 derajat

· Efek rumah kaca bisa menyebabkan mencairnya es di kutub dan penyebab banjir di kotakota pesisir besar diseluruh dunia.

Oleh karena itu sebagai masyarakat yang mengetahui dampak positif dan negative dari globalisasi dan kapitalisme kini saatnya menata kembali kehidupan agar lingkungan alam di dunia tidak semakin rusak, sehingga kita dan anak – anak cucu kita akan merasakan nikmatnya hidup di Bumi yang indah dan kaya ini. Salam Lestari.



[1] Doyle Paul Johnson, Teori Sosiologi Klasik. Hal.146.

[2] Kamus Ilmiah Populer. Hal. 203.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar