Film yang lulus sensor pada tahun 2004 menampilkan peran Julia Roberts yang sangat menarik. Setting tempat yang berawal dengan adegan di tepi pantai ini sangat mengejutka. Adegan dalam film inipun sangat mengejutkan karena tidak sesuai dengan terkaan saya. Film ini menceritakan tentang kisah seorang perempuan yang menikah dengan laki-laki yang menurut saya memiliki keterbelakangan mental. Tidak hanya posesif, berlebihan dan pencemburu sang suami yang bernama Martin pun dapat dikatakan gila karena obsesinya untuk selalu memiliki Laura (Julia Roberts) mengakibatkan Martin sangat keras dalam menjaga Laura. Dapat diibaratkan kehidupan Laura sangat menderita bersama orang yang dinikahinya. Setting tempat atau latar film ini sangat menarik, berlatar era dahulu (bukan era milenium) film ini memiliki daya tarik yang begitu kuat dari segi keindahan setting. Berawal dari keindahan pantai dan burung-burung yang berkumpul di pantai pada sore hari, serta rumah ditepi pantai yang begitu menarik dan diidam-idamkan oleh banyak orang karena berdiri dengan megah, indah serta dilengkapi intertior uyang sangat lengkap.
Sebagai seorang istri yang baik Laura selalu melakukan hal apapun yang diminta oleh Martin suaminya. Dari persoalan kebersihan rumah, masakan, kerapihan dan keindahan rumah menjadi tanggung jawab Laura sehari-hari. Laura sebagi seorang istri diceritakan dalam film yang diangkat dari novel Nancy Price ini hanya melakukan tugas wanita sebagi seorang istri saja, wanita seolah hanya melakukan tugas istri dengan baik, melayani kebutuhan suami tanpa memperhatiakan kebutuhan diri sendirinya. Dalam film ini juag digambarkan bahwa Martin sebagi suami Laura sangat mengekang Laura dalam bergaul dan berinteraksi dengan lelaki lain. Bahkan hal yang lebih parah, Laura seolah hidup hanya untuk mengabdi kepada Martin sebagai suaminya tanpa memikirkan masa depan ia sebagi seorang wanita yang sesungguhnya memiliki cita-cita dan asa dalam masa depan. Hidup Laura terasa monoton dan terkekang didalam sebuah istana megah yang berlimpah harta dan keindahan.
Perasaan cemburu dalam diri Martin mengakibatkan ia tega menyakiti dan melukai fisik serta psikis Laura sang istrinya. Dan ketika hadir moment yang tepat bagi Laura untuk melarikan diri, yaitu pada saat pergi berlayar menyuuri pantai dan tiba-tiba terjadi badai. Martin yang hanya mengetahui Laura tidak bisa berenang serta trauma, mengira Laura telah meninggal pada saat badai tersebut. Sementara yang terjadi ialah Laura pergi melarikan diri dari kehidupan Martin. Karena hanya itulah satu-satunya jalan. Polisi ataupun negara diceritakan seolah tidak dapat melindungi Laura yang mengalami kekerasan mental dan fisik.
Laura melarikan dirinya pada sat malam ia berlayar dengan Martin dan seorang dokter, karena kesempatan itulah yang bisa merubah hidup Laura selamanya. Martin yang tidak mengetahui bahwa Laura selama ini telah mengikuti les renang mengira Laura telah meninggal dunia. Sementara itu Laura meninggalkan Martin dan kehidupannya yang dulu menjadi seorang wanita yang baru yang memiliki kebebasan. Laura pergi ke kota kecil lain. Ia dengan uang yang ia simpan dan segala persiapannya merubah dirinya menjadi seorang wanita bebas bernama Sarra Watter. Ia mnyewa sebuah rumah kecil dan disanalah ia bertemu dengan Ben, lelaki tetangganya yang memiliki kebun apel dan merupakan seorang guru drama sebuah Universitas.
Pertemuan antara Ben dan Sarra Watter atau Laura berawal ketika Ben sedang menyirami tanaman apel di kebunnya sambil bernyanyi. Pada saat itu mereka mulai saling pandang, dan hubungan mereka berlanjut begitu akrab dan semakin hari semakin akrab. Dan kedekatan antara Ben dan Laura ini lama kelamaan memunculkan pertanyaan pada diri Ben mengenai identitas serta kehidupan pribadi Laura (Sarra Water). Dan karena rasa trauma, Laura enggan menceritakan tentang keadaan hidupnya yang sebenarnya sehingga sempat memicu pertengkaran antara Laura dan Ben. Namun hal tersebut tidak berlangsung lama karena pada akhirnya Laura menceritakan tentang kisah hidup yang sebenarnya. Ben yang memang menyayangi Laura denagn tulus, menerima segala kenyataan yang ada pada Laura bahkan ia pun berusaha melindungi serta menjaga rahasia Laura. Namun tanpa sepengetahuan Laura, Martin suaminya secara perlahan mencium kebohongan yang telah dilakukan oleh Laura terhadapnya hingga perlahan-lahan ia mengetahui bahwa Laura masih hidup dan tinggal bersama dengan orang lain.
Film ini dibumbui adegan-adegan yang sangat menegangkan yang tidak pernah di duga oleh siapapun yang mengakibatkan adrenalin memuncak. Hingga pada adegan terakhir ketika Martin dapat mengetahui keberadaan Laura. Dan ia melakukan teror yang sangat menakutkan dalam satu malam itu yang membuat jantung para penontonnya berdegup kencang. Pada malam itu pula akhirnya Laura dapat mengambil pilihan jalan keluar dari persoalan hidupnya selama ini. Laura akhirnya melakukan tindakan membunuh Martin suaminya. Karena menurut saya hal tersebut memang satu-satunya jalan keluar dari persoalan ini karena memang Polisi ataupun pemerintah diceritakan dalam film ini tidak melindungi Laura karena kekuasaan dan kehebatan Martin dalam memanipulasi keadaan. Laura selam itu sudah berusaha untuk melarikan diri bahkan meminta dengan baik-baik untuk bercerai, namun Martin dengan segala kemampuan dan kekuasaannya mampu untuk mengekang Laura agar tetap hidup bersamanya hingga tutup usia, hal tersebutlah yang sangat dicita-citakan oleh Martin.
Menurut pendapat saya film ini merupakan gambaran keadaan sebagian perempuan di dunia ini yang mungkin tidak seluruhnya mendapatkan solusi dalam mengahadapi masalahnya yang sama dengan film ini yaitu tersiksa dalam kerangkeng kekangan suaminya yang posesif, gila, kasar serta seringkali memukul istri hingga terluka secara Psikis dan Fisik.
Dari kisah yang diceritakan dalam film ini, kita memiliki tugas penting untuk lebih melindungi perempuan dari siksaan yang tertutup dengan ikatan pernikahan. Semoga film ini dapat menjadi pelajaran untuk menjadikan kehidupan kita esok jauh lebih baik dan terlepas dari semua persoalan kekerasan dalam rumah tangga.
Analisis kasus
Dari film ini tergambarkan fakta bahwa perempuan mengalami kekerasan didalam rumahnya sendiri, kekerasan yang dilakukan oleh keluarganya, orang terdekatnya suaminya sendiri. Kekerasan atau violence dapat terjadi secara fisik maupun psikis. Kekerasan terhadap perempuan sampai saat ini masih sering terjadi bahkan tak kunjung berhenti. Kekerasan terhadap perempuan ini terjadi karena kondisi perempuan dalam konstruk sosial sangat rendah bahkan penafsiran yang salah mengenai agama pun menjadi salah satu penyebab mengapa perempuan seolah di nomor dua kan. Violence atau kekerasan terhadap perempuan adalah segala bentuk kekerasan berdasarkan gender yang akibatnya berupa kekerasan fisik, seksual, psikologis terhadap perempuan termasuk didalamnya ancaman-ancaman dari perbuatan semacam itu, seperti paksaan atau perampasan yang semena-mena atas kemerdekaan, baik yang terjadi di tempat umum atau didalam kehidupan pribadi seseorang. Bentuknya bisa kekerasan fisik, seksual, psikologis maupun ekonomi. (catatan mata kuliah Sosiologi Gender).
Dalam film ini dapat kita tinjau bahwa film ini merupakan gambaran kecil dari kehidupan rumah tangga yang kejam yang mungkin tidak diketahui oleh orang banyak karena terikat pada kehidupan pribadi yaitu pernikahan. Padahal apabila digambarkan dalam film ini kekerasan yang terjadi pada seorang perempuan dalam sebuah ikatan pernikahan sangatlah mengerikan, karena selain kekerasan fisik juga terjadi kekerasan psikis. Dan perempuan akan diliputi perasaan dilematis, diamana pada satu sisi ia harus mengabdi kepada suaminya naun pada sisi lain perempuan menjadi korban dalam kekerasan yang dilakukan oleh suaminya sendiri. Apalagi pada umumnya agama memiliki doktrin yang kuat agar perempuan selalu mentaati perintah suaminya, hal uyang menjebak pabila diterapkan begitu saja ayat-ayat dari kitab suci sebuah agama tanpa memperhatikan kasus kehidupan yang nyata terjadi dalam penerapanya.
Pada penjelasan perspektif kaum feminis, kekerasan merupakan refleksi hubungan kuasa yang tidak setara. Sekaligus sebagai upaya untuk memeliharanya dimana laki-laki menguasai perempuan. Dikatakan bahwa kekerasan laki-laki merupakan mekanisme mereka baik sebagai kelompok atau individu untuk mengontrol perempuan dan menjaga supremasinya. Hal ini bukan hanya akibat sub ordinasi perempuan tetapi juga menyumbang bagi pembentukkan subordinasi itu sendiri. Laki-laki di untungkan oleh kebudayaan kekerasan itu karena perempuan akan merasa ketakuatan dan terintimidasi. (catatan kuliah Sosiologi Gender)
Kekuasaan suami dan kegilaan nya atau dalam bahasa saya suami dalam film ini sangat mengerikan karena ia saiko atau gila sangat mengekang perempuan yaitu istrinya. Sang suami menginginkan perempuan menjdi miliknya seutuhnya, padahal dalam sebuah pernikahan dua insan yang memiliki kepribadian serta kehidupan sendiri dipersatukan untuk menjalani hidup bersama dengan saling melengkapi kekurangan satu sama lain bukan menjadikan kehidupan baik suami atau istri berubah sesuai keingingan sepihak.
Perasaan tersiksa yang dialami oleh istri juga merupakan kekerasan yang amat sulit dihilangkan karena memiliki dampak yang sangat mengerikan bagi mebtal perempuan. Trauma yang dialami Laura akan menjadikan hidupnya tidak bergairah dan tidak memiliki harapan apapun. Untuk itu satu-satunya solusi adalah menjadikan kehidupannya aman dengan cara membunuh suaminya, karena seperti yang saya jelaskan diawal, solusi apapun akan tetap membuat Laura merasa tidak aman dalam kehidupannya kercuali membunuh suaminya. Dan dengan kehadiran Ben sebagai laki-laki yang mencintainya tanpa pengekangan pada awalanya tidak dipercaya Laura, namun berkat ketulusan cinta Ben kepada Laura pada akhirnya akan mampu menghilangkan sedikit rasa tarauma dan kekecewaan Laura terhadap suaminya.
Beberapa point yang dapat diambil dari film ini yaitu sebagai berikut :
1.Kekerasan terhadap perempuan dapat terjadi dalam lingkungan pernikahan yaitu lingkungan pribadi yang sulit di campu tangani oarng lain.
2.Film ini menggambarkan kekerasan terhadap istri akibat pengekangan yang dilakukan oleh suami akan sulit teratasi apabila perempuan masih terikat pada doktri agama yang mengatur seorang istri harus taat kepada suami serta menerima apapun yang terjadi padanya, padahal ini merupakan persoalaan yang akhirnya melanggengkan kekerasan tersebut
3.Film ini menggambarkan bagaimana dampak kekerasan yang terjadi pada seorang istri yang disakiti oleh suaminya yaitu perasaan takut sepanjang waktu yang mengakibatkan rasa trauma.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar