Film yang menggunakan plot maju mundur ini menceritakan perjuangan seorang wanita yang bekerja di tambang, yang mengalami pelecehan seksual dan melancarkan tuntutan class-action (tuntutan hukum oleh seseorang atau sekelompok orang yang memiliki masalah yang sama terhadap orang/lembaga tertentu) terhadap atasannya karena mereka tidak mampu melindungi dirinya dan karyawan wanita lainnya. North Country adalah sebuah film tahun 2005 garapan sutradara Niki Caro. Film ini berdasarkan kisah nyata kasus Jenson v. Eveleth Taconite Co. dan terinspirasi dari buku Class Action karangan Clara Bingham dan Laura Leedy Gansler. Syuting dilakukan sejak Februari 2005 bertempat di Minnesota bagian utara (termasuk kota Eveleth), Minneapolis, dan New Mexico.
Tokoh utama film ini adalah Josey Aimes (Charlize Theron), seorang orang tua tunggal dari dua anak, yang kembali ke kampung halamannya di Minnesota. Di awal cerita digambarkan bahwa kekerasan yang dilakukan suami Josey merupakan alasan Josey membawa anak-anak nya meninggalkan ayah mereka. Walaupun mendapat ketidaksetujuan dari orangtuanya, Josey tetap bersikeras mengasuh anak – anak nya dengan keringatnya sendiri. Untuk mencukupi kebutuhannya, Josey bekerja di tambang (meski sebenarnya ayahnya tidak setuju). Josey bekerja di tambang bersama temanya terdekatnya yaitu Glory Dogde (Frances McDormand).
Bekerja di pertambangan merupakan sebuah cara untuk Joey dapat memenuhi kebutuhannya serta anak-anaknya. Tetapi bekerja di pertambangan yang mayoritas laki-laki bukanlah hal yang begitu mudah. Pekerja di tambang tersebut nyaris semuanya laki-laki, dan ternyata nyaris semua pekerja wanita di sana mengalami pelecehan seksual, dan mereka tidak bisa apa-apa karena tidak ada perlindungan hukum dari perusahaan. Josey pun mengalaminya, karena mantan kekasihnya saat SMU, Bobby Sharp (Jeremy Renner), berusaha dengan segala cara untuk mendekatinya secara seksual, meski Bobby sebenarnya sudah menikah. Josey pun melaporkan hal ini kepada atasannya, yang semula dikira akan membantunya, tapi ternyata mereka tidak bisa (atau tidak mau) melakukan apa-apa.
Di lain pihak, kedatangan Josey di kampung halamannya juga dicibir oleh sebagian orang. Mereka membicarakan masa lalu Josey, karena Josey tidak pernah memberi tahu siapakah ayah Sammy (anak pertamanya) sebenarnya. Sementara itu keadaan semakin memburuk, pelecehan yang dilakukan kepadanya membuat kesabarannya habis. Josey pun mengundurkan diri dari pekerjaannya. Ia dan pengacaranya, Bill White (Woody Harrleson) bermaksud mengajukan tuntutan kepada perusahaan. Namun ketika ia meminta rekan-rekan kerjanya yang sesama wanita untuk bersaksi melawan perusahaan, mereka semua menolak, karena mereka sangat membutuhkan pekerjaan. Persoalan semakin bertambah ketika istri Bobby beteriak-teriak di depan umum pada pertandingan hoki anak-anak, meminta agar Josey menjauhi suaminya. Hal ini membuat marah Sammy (Thomas Curtis) yang memutuskan untuk kabur dari rumah. Namun setelah dinasihati oleh Kyle (Sean Bean) ia pun kembali ke rumah.
Di pengadilan pun terungkap bahwa ternyata Josey diperkosa oleh guru SMU-nya sampai ia hamil. Dan setelah didesak oleh Bill, Bobby pun mengakui bahwa sesungguhnya ia melihat perkosaan tersebut, namun ia tidak melakukan apa-apa. Pada akhirnya, Josey memperoleh dukungan dari rekan sesama perkerja wanitanya, dimulai dari sahabatnya, Glory (Frances McDormand). Mereka mendapatkan sejumlah uang ganti rugi, dan yang terpenting adanya kebijakan yang melindungi mereka dan wanita-wanita lain setelah mereka dari pelecehan seksual.
North Country menggambarkan bagaimana kekerasan dan tindakan diskriminasi terhadap perempuan nyata terjadi. Joey sebagai salah satu dari sekian banyak perempuan yang mengalami kekerasan merupakan contoh nyata dalam kehidupan ini. Sebagian bbesar perempuan hanya diam menerima tindakan kekerasan yang dilakukan kepada mereka, hal tersebut dikarenakan perempuan akan semakin membuka aib mereka apabila kekerasan yang terjadi kepada mereka diberitahukan kepada orang lain.
Joey dengan keadaan yang mendesak kehidupannya harus bekerja di pertambangan sebagai buruh tambang dengan berbagai resikonya. Di Perusahan Pertambangan itu jumlah buruh perempuan begitu sedikit dibanding jumlah tenaga pria dengan total pekerja 300 orang. Tidak jarang mereka mengalami pelecehan seksual baik verbal maupun fisik. Coretan tulisan nan menusuk perasaan di tempat kerja maupun di ruang ganti pakaian adalah makanan setiap hari. Sempat Josey dan kawan-kawan menemukan alat bantu seks di dalam kotak makan siang. Pernah pula teman kerja pria Glory merogoh saku baju di bagian dadanya dengan alasan meminta rokok. Yang paling parah, teman Josey lainnya, Sherry (Michelle Monaghan), menemukan pakaiannya terkena bercak sperma ketika dia membuka loker. Buruh pria yang getol melecehkan mereka adalah Bobby Sharp (Jeremy Renner) –yang justru adalah kekasih Josey sewaktu sekolah.
Selain pelecehan, buruh perempuan tidak memperoleh fasilitas semacam tunjangan kesehatan. Padahal beban kerja mereka sama beratnya dengan buruh pria. Karena bekerja terlalu keras, Glory (teman dekat Joey) terserang penyakit Lou Gehrig yang menggerogoti satu per satu organ tubuh hingga lumpuh. Akibatnya, Glory dipecat dan tidak dibela oleh serikat pekerja. Untunglah dia memiliki Kyle, suami yang sabar.
Mengalami berbagai tindakan pelecehan dan tidak bersedia nya teman-teman buruh perempuannya bertindak tegas mengakibatkan kesabaran Joey habis. Meluncurlah dia ke kantor pusat menemui Don Pearson, si pemilik perusahaan. Namun Pearson justru hendak memecatnya jika Josey sudah tidak kerasan bekerja.
Hingga akhirnya Joey dengan tekadnya melakukan gugatan class action. Josey menyewa pengacara Bill White (Woody Harrelson), sahabat karib Kyle. Josey dan Bill mencoba jalur serikat pekerja. Maklum, class action baru bisa dikabulkan jika pihak penggugat setidaknya terdiri dari tiga orang. Bukannya dukungan, justru cemoohan yang mereka dapat. Di bawah pengaruh Bobby, serikat pekerja enggan memberikan dukungan. Bobby menebar provokasi, jika gugatan class action dimenangkan, perusahaan ini akan tutup dan para pekerja akan menganggur. Tidak memperoleh dukungan, Josey dan Bill tetap maju ke meja hijau melawan Pearson yang menyewa pengacara perempuan Leslie Conlin (Linda Emond). Uniknya, dalam sebuah percakapan internal, Leslie justru menyarankan Pearson memenuhi tuntutan buruh perempuan. “Langkah Anda akan menjadi kebijakan awal yang akan diikuti oleh perusahaan tambang manapun,” ujarnya. Sayang, Pearson juga bersikukuh. Dia berujar tak perlu menuruti keinginan buruh perempuan itu karena buruh tambang sebenarnya adalah pekerjaan laki-laki. Sejak awal mereka harus sadar betapa beratnya bekerja di pertambangan. Secara mengejutkan, Leslie pun membalik jawaban itu, “Demikian halnya dengan pekerjaan pengacara (yang masih didominasi pria).”
Josey selalu berusaha menyenangkan kedua anaknya. Hal ini terlihat dengan usaha menraktir Sammy dan Karen ke restoran maupun memberi kado seperangkat alat hockey buat Sammy dan trampolin bagi Karen. Karena itulah, dia memutuskan banting tulang menjadi buruh tambang. Keputusan Josey sempat ditentang ayahnya dan bahkan membuat Sammy benci padanya.
“Saya hanya ingin seperti orang lain. Bekerja dan mendapat upah mingguan, serta menghidupi kedua anak saya,” tuturnya dalam sebuah orasi pada forum serikat pekerja tambang logam.
Dari film ini tergambarkan fakta bahwa perempuan mengalami kekerasan didalam rumahnya sendiri, bahkan disetiap lingkungan. Kekerasan atau violence dapat terjadi secara fisik maupun psikis. Kekerasan terhadap perempuan sampai saat ini masih sering terjadi bahkan tak kunjung berhenti. Kekerasan terhadap perempuan ini terjadi karena kondisi perempuan dalam konstruk sosial sangat rendah bahkan penafsiran yang salah mengenai agama pun menjadi salah satu penyebab mengapa perempuan seolah di nomor dua kan. Violence atau kekerasan terhadap perempuan adalah segala bentuk kekerasan berdasarkan gender yang akibatnya berupa kekerasan fisik, seksual, psikologis terhadap perempuan termasuk didalamnya ancaman-ancaman dari perbuatan semacam itu, seperti paksaan atau perampasan yang semena-mena atas kemerdekaan, baik yang terjadi di tempat umum atau didalam kehidupan pribadi seseorang. Bentuknya bisa kekerasan fisik, seksual, psikologis maupun ekonomi.
Kita juga dapat meninjau bahwa film ini merupakan gambaran kecil dari kehidupan. Pada penjelasan perspektif kaum feminis, kekerasan merupakan refleksi hubungan kuasa yang tidak setara. Sekaligus sebagai upaya untuk memeliharanya dimana laki-laki menguasai perempuan. Dikatakan bahwa kekerasan laki-laki merupakan mekanisme mereka baik sebagai kelompok atau individu untuk mengontrol perempuan dan menjaga supremasinya. Hal ini bukan hanya akibat sub ordinasi perempuan tetapi juga menyumbang bagi pembentukkan subordinasi itu sendiri. Laki-laki di untungkan oleh kebudayaan kekerasan itu karena perempuan akan merasa ketakuatan dan terintimidasi.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar